Pepek Panas ,Ganas 2



Tuh kan suamimu sendiri bilang nggak usah terburu buru, jangan pikirin dia suruh ikutin kataku ” kata Davine menggoda, kocokannya makin cepat seakan menumpahkan segala rindu dan dendam yang terpendam bertahun tahun.
Kini aku ditelantangkan di tempat tidur pasien, tubuhnya lalu naik di atasku, kini kami telanjang dan kembali berpelukan dan berciuman di ruang prakteknya, untuk kesekian kalinya dia memasukkan Kontolnya ke memek ku terus mengocoknya, karena tempat tidur berbunyi ketika digoyang, Davine pindah ke kursi, ditariknya tubuhku kepangkuannya.
Aku segera mengatur posisiku dipangkuannya, sesuai “petunjuk” suamiku untuk mengikuti kata Davine. Kini ganti aku yang mengocok Davine, posisi ini adalah favouritku. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kugoyang dan kuputar pantatku hingga terasa memek ku diaduk aduk Davine. Tak mau kalah, Davine meremas payudara ku dan mengulum kedua putingku dengan sedotan yang kuat, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi, maka sampailah ke puncak kenikmatan tertinggi, orgasme pertama yang kualami selain dengan suamiku. Kugigit keras jariku untuk menahan jeritan orgasmeku supaya tak terdengar dari tempat suamiku menunggu.
“udah Dav, keluarin please” pintaku setelah mengalami orgasme
“kan suamimu bilang nggak usah buru buru” goda Davine
Tak tahan dipermainkan lebih lama, dengan sisa tenaga yang ada, aku goyang makin liar dan cepat, Davine membenamkan kepalanya di antara payudara ku, sepertinya dia sudah tak tahan lagi, makin keras sedotan di putingku.
“aku mau keluar, di dalam ya Lly” pintanya
“gila kalau hamil gimana” protesku
“berarti terapinya sukses” jawabnya sambil kembali meremas dan menyedot putingku, aku ingin berdiri melepaskan pelukan Davine tapi terlambat ketika kurasakan denyutan dan semprotan yang keras dari Kontol Andre mengenai sisi dalam memek ku, terasa begitu keras denyutan itu hingga aku terhanyut dan mengalami orgasme untuk kedua kalinya dengan Davine.

Aku terkulai lemas, kusandarkan kepalaku dipundak Davine, dia membelaiku dengan penuh kasih sayang, terhanyut aku dalam belaiannya dan pangkuannya, tubuh kami menyatu dan kurasakan degup jantung Davine, keringat kami saling menempel menyatu dalam kenikmatan, sesaat aku melupakan kalau suamiku menunggu dengan setia di luar ruangan. Beberapa saat kemudian kami tersadar dan segera berbenah, kukenakan kembali pakaianku dan merapikan make up di wajahku, setelah dirasa semua sudah aman, Andre memanggil suamiku untuk masuk.
“Pak Darma, istri anda memang hebat, dia bisa tahan lama dengan kondisi seperti ini” kata Dr. Davine sambil melirik ke arahku. Aku hanya senyum senyum saja mendengar perkataannya, tapi tidak dengan suamiku.
“maksud dokter ?”
“ada sedikit kelainan pada rahim istri anda, dengan kondisi seperti ini kalau capek atau kondisi tertekan dia akan sangat kesakitan” jelasnya, kemudian dia menjelaskan dengan bahasa kedokteran yang bagi kami berdua tidak mengerti sama sekali, tapi aku iyakan saja.
“saya akan melakukan therapy dua kali seminggu kalau bisa senin disini dan kamis di tempat praktek saya di rumah supaya bisa lebih lama” jelas Davine sambil melirikku kembali
“saya sudah melakukan terapi awal, sementara ini harap jangan berhubungan dulu selama satu minggu, setelah satu minggu datang lagi ke sini akan saya beri terapi dan obat untuk bisa berhubungan besoknya” lanjut Davine kembali melirikku pertanda dia merencanakan sesuatu.
“saya ikut apa kata dokter saja, mana yang terbaik bagi istriku terbaik pula bagi kami” jawab suamiku
“oke Pak Darma, bu Darma, kita sudah sepakat, sampai senin di tempat praktek saya di rumah, harap reservasi dulu senin pagi supaya tidak terlalu lama menunggu” kata Davine sambil menyerahkan kartu namanya ke suamiku.
Selama percakapan ini, kurasakan sperma Davine menetes keluar dari memek ku, entah berapa banyak yang tertampung di celana dalamku. Akhirnya kami pergi ketika lonceng jam 23.11 berbunyi, berarti aku sudah bersama Davine paling tidak selama dua jam, dan lebih dari satu jam melakukan sex dengan dia, Davine mengantar kami hingga pintu, sebelum meningalkan kami, dia masih sempat meremas pantatku.
“jangan lupa Kamis untuk reservasi dulu” katanya terus menghilang dibalik pintu. Ketika suamiku mengurus pembayaran, aku ke toilet untuk membersihkan sisa sperma Davine yang menetes di pahaku.


Artikel Bikin Mupeng Lain-nya:

0 komentar:

Poskan Komentar